Minggu, 10 Mei 2015

Senja di Khatulistiwa*



Cerpen Vivi Al Hinduan

Aku adalah seorang lelaki. Lelaki yang gagal, tepatnya. Ya, gagal di semua bidang kehidupanku. Di usia 59 ini, aku ditinggal oleh anak-anakku. Kini aku terbaring lemah di ranjang setelah menjalani operasi by-pass bulan lalu. Aku menunggu kedatangan mereka dan anak-anak mereka, cucu-cucuku yang sangat kusayangi lebih dari apapun di dunia ini. Bulan lalu Ivan dan Mia beserta kedua anak mereka datang menjengukku di rumah sakit. Hanya sekali saja. Lalu Nina dan suaminya, Budi, juga menjengukku. Setelah itu tidak pernah lagi. Mereka tenggelam dengan

Minggu, 03 Mei 2015

CUCU MBOK NAH

Cerpen Asmirizani

Raut wajah Mbok Nah semakin mengeriput termakan usia senja. Raut wajah yang dulunya dihiasi senyum ramah tamah pada siapa saja, membuatnya mendapat pekerjaan tetap sebagai orang kampung yang masih kuat menggenggam adat istiadat daerahnya.
Mbok Nah, begitulah panggilan orang kampung untuknya. Entah siapa nama asli perempuan berusia 85 tahun ini. Tidak banyak yang tahu, karena generasi asli setingkatnya sudah tidak bermukim di daerah ini. Daerah tempat tanah kelahiran Mbok Nah. Daerah kampung yang dulunya kuat memegang adat istiadat.
“Cuk, kamu harus menggenggam erat adat istiadat asli daerah kampung kite ini.” Kata Mbok Nah sambil meracik sirih yang siap dikunyahnya.
“Iye nek, saye maok mempertahankan dan meneruskan adat kite ni. Adat istiadat turon temuron nenek moyang kite dolok tu.” Kata gadis belia yang berumur 15 tahunan. Sambil menumbuk sepotong buah pinang untuk Mbok Nah.
“Ye. Bagos, kalok maseh maok berpegang pade adat daerah kite. Jangan macam budak-budak tu yang udah kurang beradat.” Kata Mbok Nah sesambil menguyah sirih dan sesekali menelan liurnya.
Sudah beberapa kali Mbok Nah dan cucunya menghadiri

Minggu, 26 April 2015

FLP Kalbar Buka Taman Bacaan Keliling

Oleh Asmirizani
Tulisan ini mengingat kembali kegiatan yang pernah dilakukan Forum lingkar Pena Kalimantan barat yang pernah di tulis oleh anggota.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi anggota FLP kalbar untuk kembali menggiatkan taman bacaan ini.


Pagi itu pemandangan di sekitar rektorat Universitas Tanjungpura Pontianak berbeda dari hari minggu pagi biasanya. Pemandangan yang biasanya di depan rektor Universitas Tanjungpura hanya taman terbentang bunga-bunga indah. Pemandangan sekumpulan orang-orang yang berlari kecil berolahraga. Pemandangan saat pagi ini sekelompok penulis dan pembaca muda Kalimantan Barat berkumpul. Mereka membuka sebuah lapak bacaan yang terletak di samping hamparan bunga-bunga. Mereka menamakan diri Forum Lingkar Pena Kalimantan Barat (FLPKB). FLPKB ini merupakan kelompok penulis dari cabang FLP pusat. Kelompok ini produktif melakukan kegiatan yang berkaitan dengan baca-tulis. Terlihat beberapa buku yang terhampar merupakan karya dari anggota FLP. Anggota FLP mempunyai hobi yang sama, yaitu membaca dan menulis. Taman bacaan keliling merupakan satu diantara kegiatan dari FLP.
 
Anggota FLP Kalimantan Barat dan beberapa pengunjung berfoto bersama (Foto Asmirizani)

Pagi minggu bertanggal 1 Desember 2013 yang bertepat memperingati hari HIV/AIDS sebuah forum kepenulisan yaitu FLP bersemangat membuka taman bacaan keliling. Terlihat beberapa anggota FLP sedang

Minggu, 19 April 2015

Senandung Mentari

Cerpen Addien Sjafar Qurnia


Aku masih melihat gadis itu di sana. Duduk manis di selasar kelas kami. Sendiri. Hanya ditemani sepercik gerimis akibat sisa hujan tadi pagi. Sesekali kulihat ia menarik nafas panjang. Mungkin, untuk menyesap aroma rumput basah yang diterbangkan semilir angin yang berhembus nakal.
“Sendirian?” tanyaku setelah mendekat. Ia menoleh, lalu mengangguk kecil.
“Jangan sering sendirian, bahaya,” lanjutku seraya duduk bersisian dengannya. Sementara gadis itu hanya menyambutku dengan satu senyuman tipis.
Selalu saja begitu. Sejak aku pindah ke sekolah ini sebulan silam, terhitung hanya

Minggu, 12 April 2015

Mimpi Tak Sempurna

Cerpen Addien Sjafar Qurnia

Mun terjaga dari mimpi ketika bis tua antar kota yang ditumpanginya memasuki kawasan terminal Batulayang. Kepalanya sontak berdenyut mendapati suasana terminal yang tampak begitu bising siang itu. Deru mesin kendaraan yang ditingkahi letupan klakson terdengar memperparah keadaan. Matahari yang bersinar terik sepanjang musim kemarau, ditambah debu-debu yang beterbangan di udara semakin membuat cuaca tampak tak bersahabat.
Wanita sederhana itu turun dari bis dengan tas tergenggam erat di tangan. Wajahnya yang putih, tampak semakin pucat dan letih lantaran mabuk di sepanjang perjalanan. Jarak tempuh yang  jauh, ditambah dengan kondisi jalan yang sulit membuat wanita muda itu limbung. Sehingga ia berusaha mencari pegangan di salah satu sudut pos penjagaan.
“Kemane Kak?” tanya seorang lelaki dengan logat melayu yang khas.
“Kotabaru keh Jeruju?”
Mun hanya terdiam sembari menyodorkan secarik kertas berisikan alamat.
“Ough,” lelaki itu manggut-manggut dan menunjuk ke arah sebuah bis kota bernomor nol sembilan.
Dengan lemah, Mun mengucap terima kasih. Lalu bergegas

Minggu, 05 April 2015

Bukan Cinta Semusim

Cerpen Addien Sjafar Qurnia

Aku bergegas memasuki ruang tamu yang tampak suram. Meletakkan tas kerjaku di atas meja dengan tergesa, lalu mengedarkankan pandangan ke sekeliling. Keadaan rumahku seperti tak layak huni. Bagaikan kapal yang terkena hantaman angin puting beliung. Porak poranda. Kursi dan meja berantakan. Bahkan vas bunga penghias meja, hancur berserakkan di lantai.
Dari ekor mata, kutangkap sosok mungil yang sedang menangis sesenggukan di sudut ruang. Wajahnya pias dengan tubuh bergetar hebat. Sementara mata kecilnya yang tajam, menatap ke arahku dengan pandangan tak bersahabat.
“Ada apa? Kenapa kau menangis?” tanyaku beruntun seraya mengusap air matanya.
Wanita itu bungkam. Tak berucap sepatah kata pun. Bibirnya mengerucut sebelum

Senin, 30 Maret 2015

Bunda dan Lelaki Pilihan

Cerpen Addien Sjafar Qurnia

Aku hanya tertunduk ketika hawa panas kembali menjalari setiap inci wajahku. Tak berani rasanya mengangkat muka. Terlebih, saat wanita lembut itu menatapku dalam-dalam. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah hidupku, aku merasa tak mampu berkata-kata.
Wanita itu diam tanpa suara. Dan itu semua sudah cukup bagiku sebagai tanda bahwa beliau menanti penjelasanku. Sesekali jemari lentiknya yang mulai keriput tampak sigap membolak-balik lembaran kertas berjilid rapi di tangannya. Pupilnya berlari menelusuri kalimat-kalimat yang berhamburan pada lembaran biografi milik Langit. Sementara aku hanya mematung menantikan komentar beliau.
“Jadi... bagaimana menurut Bunda?” akhirnya aku menyerah pada kebisuan kami yang cukup lama.
“Apanya yang bagaimana? Jika dia memang serius menginginkan gadis semata wayangku seperti yang ditulisnya di sini, suruh saja ia kemari!” ujarnya seraya tersenyum lembut.
Air mataku sontak luruh di pangkuan wanita yang