Rabu, 21 September 2016

Cinta Tanpa Syarat



 oleh Tri Hartati
(Diterbitkan di Koran PontianakPost Edisi Minggu, 30 September 2012)

Waras. Begitu nama suami Dinda. Dinda adalah keponakan tetangga dekatku. Namun aku menjadi akrab dengan pasangan pengantin baru yang memilih tinggal dikampung ini.
            “Pak De yang menyuruh kami pindah dari kota kesini, katanya disini banyak kerjaan mbak. Lagian memang dikota pun kami kesusahan. Orang tua hanya menghuni rumah petak. Kami berharap kepindahan kami kesini bisa mengirimkan uang pada mereka.” Begitu tutur Dinda. Kutahu usia mereka masih muda.

            “Iya mbak Lia, dengar-dengar pun para asisten perkebunan sawit bahkan mencari sendiri para pekerjanya, sampai datang kerumah-rumah”. Kata Mas Waras menimpali. Aku memanggil Mas, karena ia lebih tua dua tahun dariku.
            Hingga akhirnya terjadi tragedi pertengkaran dalam rumah tangga Pak De Dinda. Dinda dan suaminya mengungsi kerumahku. Ayah dan Ibuku menerima pasangan suami istri itu dengan iba. Dianggapnya mereka adalah anak kandung sendiri. Aku juga tak berkeberatan. Kami tahu, istri Pak De tidak setuju Dinda dan suaminya menumpang dirumahnya. Pasalnya sudah bukan rahasia umum, istri pak De Dinda bertabiat kurang baik. Pelit dan sombong.
            Malam itu seusai makan malam, kami berbincang-bincang sambil menghilangkan penat karena seharian telah bekerja. Penduduk dikampung ini bermata pencaharian diperkebunan sawit. Menanam, Memupuk, menyiangi  serta memanen pohon sawit, begitulah. Ada juga yang mempunyai kebun karet, seperti kami. Setiap hari Ayah dan Ibu menoreh di sana.
Hingga percakapan selesai, akhirnya ayahku terpaksa menyetujui permintaan Mas Waras. Ya, mereka akan pindah tempat tinggal, yaitu di gubug kecil bekas jualan makanan kecil dipinggir jalan. Ibuku menahan mereka, tapi keputusannya sudah bulat. Mulai besok pagi mereka akan pindah.
Aku dan ibuku mengantarkan kepindahan mereka. Melewati depan rumah Pak De Dinda, Bu De nya membuang muka. Aku dan Ibuku menggeleng-gelengkan kepala.
****
Semalaman aku tak bisa tidur. Masih terbayang gubug seluas 2x3 meter yang kini jadi tempat tinggal Dinda dan suaminya. Aku hampir menangis tadi siang ketika pamit pulang. Barang-barang yang menjadi milik mereka sekarang hanyalah sepasang piring, sendok, dan gelas. Betul-betul hidup dari nol. Aku tak sanggup membayangkan jika itu menimpaku setelah pernikahanku. Apakah aku mampu melewatinya. Aku begitu bangga pada Dinda, tak mengeluh hidup bersama suaminya yang begitu melarat.
Sepulang mengajar dari SD aku pasti mampir kerumah Dinda. Ya, aku adalah guru muda honorer di SD kampungku. Berita gembira dari Dinda menyambutku. Ternyata ia sedang hamil. Baru 2 minggu umur janin  dalam perutnya. Alhamdulillah….
Seminggu  ini aku sibuk disekolah karena sedang ujian akhir semester. Aku tak tahu kabar Dinda dan suaminya. Maka siang ini, aku menyempatkan waktu untuk bertandang kerumahnya.
Dinda tak dirumah. Begitu aku sampai disana. Aku bergegas menanyakan pada tetangga disekitar.
“Dinda dibawa kerumah sakit Bu Guru Lia”. Kata seorang Ibu. Bagai tersambar petir  mendengar  kabar tersebut, aku hanya diam mematung.
“Bu Guru Lia…Bu Guru Lia…..!”
Aku langsung membawa lari motorku dengan kecepatan tinggi. Aku ingin memberitahu Ibu dan mengajaknya menjenguk Dinda.
****
Ternyata Dinda keguguran. Kandungan mudanya harus hancur demi sebuah pekerjaan. Dinda ikut bekerja bersama suaminya memupuk pohon sawit. Pekerjaan yang sangat berat.
“Dinda ngotot ingin ikut saya kerja. Saya larang, tapi dia marah.” Mas waras memberi penjelasan padaku dan Ibu.
“kenapa dia  ngotot sekali  ikut kerja Mas?”
“Karena…..karena Ayahnya kecelakaan dan membutuhkan biaya untuk operasi. Kakinya patah sangat parah”.
“Ya Allah….”. Gumam Ibu.” Kenapa tak bilang, Ibu kan bisa pinjamin uang pada kalian”.
Tiga hari di rumah sakit, Dinda sudah boleh pulang. Untung tidak kenapa-kenapa pada tubuh Dinda. Hanya calon buah hatinya yang telah raib, kembali kepangkuan Ilahi. Tak terkira rasa sedih hati sepasang suami istri muda itu.
Seakan cobaan tak berhenti datang menghampiri Dinda dan suaminya. Kali ini Dinda datang dengan muka sembab.
“Pemilik gubug itu meminta kami pindah karena gubugnya akan dipakai untuk berjualan lagi. Saya bingung. Suami belum pulang kerja. Akan pindah kemanakah kami ini?”. Terisak-isak Dinda dipelukan Ibu.
*****
Satu bulan sudah Dinda dan suaminya tinggal di rumah kami. Awalnya mereka menolak untuk tinggal dirumah kami. Tapi dengan halus Ibu meminta mereka tinggal di rumah ini sampai mereka bisa membangun sebuah rumah.
Selama tinggal serumah ini, aku bisa melihat kebahagiaan yang tercipta dari pasangan suami istri ini. Cinta tanpa syarat, itulah yang kulihat. Mas waras adalah laki-laki dengan tampang pas-pasan. Tamatan Sekolah Dasar. Menikahi Dinda tanpa ada modal apapun. Hanya modal cinta, begitu menurut Dinda. Tapi bagi Dinda, Mas Waras telah memiliki segalanya. Laki-laki baik yang jarang sekali ditemukan pada zaman sekarang ini. Kehidupan yang lurus dan selalu mensyukuri yang ada, begitu ajaran Mas Waras pada istrinya. Dinda yang cantik dan tamatan Sekolah Menengah Atas pada akhirnya takluk hatinya pada laki-laki tipe Mas Waras.
Sekembalinya aku penataran dari kabupaten, aku tak mendapati Dinda dan suaminya. Ibu bilang mereka sudah pindah.
“Mereka mendirikan gubug kecil di kebun karet kita Lia. Ibu tak tega melepas mereka, tapi mereka tetap pindah. Cinta mereka begitu  kuat, saling berbagi dan memberi. Ibu yakin mereka bisa membangun rumah secepatnya karena mereka ulet bekerja.”
Aku lalu pamit untuk menjenguk Dinda. Membawa bungkusan berisi klambu tidur untuk Dinda. Aku tahu, di kebun karet pasti sangat banyak nyamuk. Bahaya kalau tidur tidak memakai klambu. Bisa-bisa terkena demam malaria. Dari jauh sudah nampak bangunan gubug yang sangat sederhana. Kecil dan beratap daun ilalang yang tersusun rapi. Tanpa sadar, aku meneteskan airmata. Aku sedang dalam pencarian jodoh, tapi apakah aku bisa menerima cinta tanpa syarat seperti Dinda?
***

Pontianak, 9 September 2012
06:16 WIB
Share:

1 komentar:

  1. wah tulisannya bagus banget mbak, tersusun rapi dan indah. enak bacanya

    BalasHapus