Rabu, 25 Agustus 2010

RAME

Hadirilah !!!
'' RAMADhAN MENULIS ''
Tempat : RUMAH MIMPI taman Gita nanda
Waktu : Tgal 29 agustus 2010 JAM 12.00 sampai buka puasa.
regristasi : 20.000

Agenda : - BEDAH BUKU, dan menghadirkan penulis kalbar.
pendaftaran : 085750170622 (sifath), 085750929807 9asti)
Pendaftaran ditunggu sampai acara berlangsung
buruan ya.. jangan ketinggalan

Senin, 09 Agustus 2010

Aku,Pena dan tulisanku


Aku tak tahu harus dimulai dari mana. Seperti telur yang kebingungan mencari induknya. Seperti angin entah berhembus kemana arahnya. Juga Seperti hati yang tak bisa ditebak serta merta.

Perkenalkan inilah AKU. Aku tidaklah lebih dari seorang manusia biasa. Diam,bisu, terluka dan kadang-kadang tak mampu berbuat apa-apa. Aku mengobati lukaku dengan perasaan senyum,tawa dan kesabaran. Sehingga seakan-akan semua itu adalah tangga bagiku untuk menaiki tangga kesurga. Kesabaran, kebenaran, kewibawaan, ketakutan maupun kesedihan. Semua itu bercampur menjadi satu padu. Bertumpu tindih membentuk kekuatan dalam satu kekuatan.

Wahai saudaraku...!. Bangsa ini telah jauh berubah. Telah jauh jatuh ke jurang yang dalam. bangsa yang mulai menanam benih-benih kemurkaan. Bangsa yang mengutamakan kepentingan-kepentingan pribadinya dan mementingkan nafsu-nafsu yang tak berujung dan jatuh kedalam jurang kehancuran.

Bangsa ini telah mengalami kemorosotan wahai saudaraku. Sedikit demi sedikit akhlak mulia mulai luluh. Perkosaan, Perjudian, pembunuhan, kesombongan dan kebutaan mulai tumbuh, hidup bersatu padu membangun kebodohan dalam bentuk kemurkaan. Segalanya adalah benih-benih kemurkaan yang membuat negeri kita hancur luluh lantak. Bangsa ini telah padam.kelam lagi menghitam.

Ingat tsunami diaceh, gempa di tasikmalaya,dan banjir badai di penjuru dunia. Bukankah itu semua ulah manusia. Ribuan manusia meninggal dunia, potongan tubuh bertaburan kemana-mana, jutaan rumah, hewan,dan serta tumbuhan hancur luluh lantak. harta benda,jiwa,raga semuanya telah sirna begitu saja...siapa yang melakukan hal ini kalau bukan dari ulah manusia. Manusia wahai saudaraku. Manusia. Ingat kita adalah manusia. Kita tidak bersyukur kepada sang pencipta, kita tamak, kita hanya mementingkan nafsu dan khlak iblis yang terlalu melekat dijiwa raga.

Tobatlah wahai manusia. Aku,engkau dan mereka adalah manusia. Dan aku bertobat dari segala kesalahan yang pernah kulakukan.

Terlalu banyak hal yang menjadi bukti bahwasanya bangsa kita telah terpuruk, stupid lagi terhina. Baik itu ahklak, aqidah, norma, dan lain sebagainya. Bangsa kita telah jauh pergi ke jurang yang dalam. Bukan atas nama ”bangsa” nya tetapi melainkan rakyatnya.

Engkau tercipta kedunia dalam keadaan baik. Maka perbaikilah aqidah dan akhlakmu. Jangan sibukkan dirimu terhadap urusan Dunia. Jangan habiskan tenagamu hingga tak bersisa hanya untuk dunia. Bukan seperti itu. Allah tak menyukai itu. Allah tak menyukai itu wahai saudaraku.

”Sungguh Dunia ini indah dan mempesona, dan Allah menjadikanmu khalifah di dalamnya ; ia akan mengamati apa yang kamu lakukan. Maka , berhati-hatilah dengan apa yang kaulakukan didunia ini...” (HR. Muslim)

Aku tulis buku ini supaya engkau mengerti wahai saudaraku. Supaya engkau tahu maksudku. Aku bukanlah manusia sempurna. Aku sama sepertimu. Aku tidur.aku makan , juga Berteman dengan kawan-kawanku. Aku tersenyum juga tawa. Aku adalah penghuni bumi yang sama sepertimu.

Tidakkah engkau ingin menolongku untuk berjalan didunia dakwah. Berjalan menuju kebenaran. Menaiki Tangga-tangga menuju surga. melangkah dan terbang tinggi kelangit Tuhan. Dengan sayap-sayap yang mengepat kuat ke negeri langit. Aku dan kamu bersama-sama berdzikir dan terbang tinggi.

Jangan takut akan kakimu yang terluka. Jantungmu yang tak karuan berdetak dan keringat yang terlalu banyak bercucuran. Sesungguhanya tetesan darah maupun keringat akan menjadi saksi kecintaan mu kepada sang pencipta. Keperihan lukamu akan menjadi kemuliaan di akhirat dan disurga. Allah itu baik dan mencintai segala sesuatu yang merajuk kebaikan. Maka berbuat baiklah kepada Allah dan Rasul_Nya. Jangan kau khianati mereka. Jangan kau marahi mereka karena kaki yang penuh luka karena kerikil tajam, walaupun debu-debu hitam membuat jantungmu sesak tak karuan. Walaupun harapan dan doa seakan-akan tak dihiraukan.Janganlah seperti itu.

Mustahil bagi Allah yang Maha pengasih dan Maha Penyayang tega menelantarkan Hamba-hambanya. Mustahil bagi Allah yang Maha penyantun dan Maha bijaksana tega mencemohkan Doa Hamba-hambanya. Tidaklah demikian. Allah itu Cinta dan sayang dengan kita semua. Maka cintailah DIA. Sertai dia kemanapun engkau berada. Karena aku,engkau dan kita semua benar-benar akan kembali pada_Nya.

Kekuasan Allah meliputi segala sesuatu. Matahari,bulan,bintang,partikel,sel dan yang terlihat maupun tidak. Semua berdzikir kepada Allah. hanya saja cuman Allah yang tahu bagaimana mereka berdzikir.(ust. Arifin Ilham)

Terserah kamu percaya apa tidak, aku hanya bisa meyakinkanmu dan menunjuki mu ke jalan yang lurus.InsayAllah.

Wahai saudaraku. Tulisanku bukan hanya sekedar untuk dibaca. bukan hanya untuk penghibur disaat gundah ataupun hanya sekedar pengisi waktu luang. Tulisan ini harus kau pahami. Selamilah maknanya, lalu amalkan dalam bentuk perbuatan. Niat lah karena Allah. rasakan Karena Allah.dan wujudkan Karena Allah SWT. maka kau akan mengerti hakekat dari kehidupan yang kau jalani.

Ingatlah. ketika hatimu merana, siapa yang menghiburmu hingga mendatangkan rasa senang dalam hatimu.

ketika rasa lapar merantai, siapa yang memberi rasa kenyang dan kenikmatan. Semuanya karena Allah. Allah lah yang mengatur semuanya.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Allah Yang Maha Pemurah,Yang telah mengajarkan Al Qur'an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan_Nya.Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk- (Nya),di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.

Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,

antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Dan kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu wahai manusia dan jin.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Wahai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (dari padanya).

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang berdosa.

Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air yang mendidih yang memuncak panasnya.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?,

Kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.

Mana nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?,

Kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Di dalam kedua surga itu ada dua mata air yang memancar.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Di dalam keduanya ada (macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia.

(QS. Ar-rahman 1-78)

Seorang yang penulis tidak akan membiarkan penanya habis terbakar waktu dan waktu. Satu pena hitam yang kugunakan, saat berarti bagiku untuk mencurahkan segala yang ada. baik itu Isi hati. Puisi, Amarah,bahagia,penghibur masalah,dan segalanya tentang aku dan dunia.

Pena adalah perisaiku untuk melindungi kebenaran akan kebatilan.. Dia mampu mengubah warna-warni dunia. Mengubah murka menjadi mulia. Mengubah benci menjadi rasa cinta. Mengubah nafas jadi kehidupan. Mengubah neraka dunia jadi surga akhirat.

Aku ingin menjadi kau jauh lebih baik dari apa yang terbaik selama ini. Aku ingin kau jauh lebih baik dari manisnya madu. Jauh lebih baik dari indahnya kupu-kupu. Aku ingin kau menjadi sosok pribadi yang tangguh. Kuat.lagi tak sombong dan angkuh.

Seorang yang penulis tidak akan membiarkan penanya habis terbakar waktu dan waktu.

Wahai manusia. Seandainya engkau tahu siapa yang dirintih oleh Muhammad dikala hitamnya gelap malam. Seandainya engkau tahu pada siapa ikan berdzikir, burung terbang, dedaunan yang patah berganti dan mata yang selalu berlinang mengenang dosa yang terlanjur dilakukan setiap harinya. Segalanya berdzikir pada Allah SWT wahai saudaraku. Mengenang_Nya lalu bercampurlah rasa saling rindu diantara dua cinta menjadi satu .

Wahai manusia. Jiwamu telah lama kaku. Penuh dosa dan kabut. Debu-debu hitam yang beterbangan dijalanan lebih mulia dibandingkan qolbumu. Kuning dedaunan dipepohonan lebih indah dari warna hatimu. Hatimu kini terlanjur jatuh. Remuk dan tak berdaya.

Wahai saudaraku bergegaslah Bantu hatimu. Hiburlah dirinya dengan dzikir kepada Allah. Baik itu melalui nama_NYA maupun ciptaan_NYA.

Oleh karena itu maknai dan pahami betul-betul nasehat dari saudaramu. bisa saja apa yang kau benci lebih baik bagimu dan bisa saja apa yang kau suka jauh lebih buruk bagimu. Aku tidak bisa memaksamu untuk dapat memahami apa yang kumaksud. aku hanya mengharap cinta Allah bukan balasan darimu. Cukuplah Allah sebaik-baiknya penuntunku,penghiburku, tempat sandaranku, dan tempat kembalinya segala sesuatu.

Dewasa ini. kau bisa lihat banyak anak muda mengaku muslim tapi tak shalat. berpakaian tapi telanjang, berpuasa dibulan ramadhon tapi kok bebas merokok dijalanan.

Apa itu akhlak seorang muslim.apa itu seseorang yang dirindu surga.?

BUKAN wahai saudaraku. itu bukan Islam. Mana mungkin kau bisa menerima semua itu. aku yakin kau masih punya iman dan cinta kepada Allah SWT.

Setiap anak adam yang melakukan kesalahan,dan sebaik-baiknya orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat.” ( Tarmidzi)


Hidup ini bagaikan neraka bagi orang yang bertaqwa,

bagaikan air busuk yang ditelan mentah-mentah,

menggerogoti jantung lalu memadamkan semangat bagi manusia yang seharusnya mahkluk yang sempurna.

Hidup ini bagaikan benih-benih Letih,lesu,lemah,gundah dan kesengsaraan yang tak terbatas katanya.

Tapi Aku berkata hidup ini Indah. Hidup ini bagaikan setetes air surga yang Kau Hamparkan begitu saja.

Hidup ini bagaikan jantung yang senantiasa berdetak, memohon kehidupan selalu berkelanjutan.

Hidup ini bagaikan Gumpalan Awan hitam yang membawa kabar hujan kepada sang petani.

Bagaikan buah-buahan yang siap disantap oleh raja dan bangsawan negeri

Aku bersyukur dapat hidup didunia ini Ya Rabb,

Dalam hidup,dalam nafas,melangkah,berjuang hingga kematian.

Aku bersyukur segala sesuatu yang telah dilimpahkan_MU kepada dunia. Atas nama,harta dan keluarga yang mencinta.

Wahai manusia di penjuru bumi

Tunjukan pada Pemimpin semesta dan seisinya. Bahwasanya Engkau bisa.

Engkau bisa dan mampu menjadi jauh lebih baik dari apa yang terbaik hari ini,besok dan seterusnya. InsyaAllah

”Engkau berpikir tentang dirimu sebagai seonggok materi semata, padahal di dalam dirimu tersimpan kekuatan tanpa batas”

(Ali bin Abi Thalib)


Unbelievable !

(Kisah antara Daffort dan Lindy)

Satu

Pagi ini tampak cerah di pelupuk mata Lindy. Ia memandang kota Freshland dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya. Freshland merupakan sebuah tempat yang sangat indah. Dipimpin oleh raja dan ratu yang baik pula. Seperti biasa, Lindy harus membantu ibunya memerah susu sapi yang berada tak jauh dari rumah Lindy. Mata pencaharian ibu Lindy adalah menjadi seorang penjual susu murni. Lindy sendiri yang biasanya mengantarkan susu hasil perahan ibunya itu kepada pelanggan.

Matahari pagi masih belum terlalu nampak. Hanya seberkas cahaya keemasan yang baru muncul. Membias ke hijaunya padang rumput di sekitar rumah Lindy yang juga terdapat peternakan. Sungguh lingkungan yang masih alami. Tidak ada polusi, tidak ada suara bising kendaraan bermotor ataupun suara mesin dari pabrik. Semuanya masih berbau alam. Lindy sangat senang tinggal disana. Keadaan itulah yang membuat tempat itu diberi nama Freshland yang artinya daratan yang segar atau lebih akrabnya tempat dimana semuanya masih belum terkontaminasi oleh hal-hal yang berbau polusi maupun limbah. Udara paginya juga masih sangat segar dihirup oleh kedua lubang hidung. Sejauh mata memandang, hamparan hijaunya rerumputanlah yang tampak. Bukan jalanan macet dengan polusi menghiasi di sekitarnya.

Pagi ini Lindy akan pergi ke kota untuk mengantarkan pesanan susu sapi sebanyak dua puluh botol ke kota. Tepatnya di tengah kotanya, di Naritha City. Lindy biasanya naik sepeda untuk pergi kesana. Karena menurutnya, tempat tinggalnya juga tak terlalu jauh ke Naritha. Walaupun bagi ibu Lindy, nyonya Teresa, Naritha City itu sangat jauh jika ditempuh menggunakan sepeda. Tapi Lindy terus memaksa agar ibunya mengijinkannya untuk mengantarkan susu ke Naritha.

Ibu Lindy kerap kali merasa kasihan melihat anaknya yang harus ikut bekerja banting tulang semenjak ayahnya tiada. Ayah Lindy meninggal ketika Lindy berusia delapan tahun karena mengidap penyakit hemofilia. Sungguh Lindy kecil yang malang. Tapi Lindy tak pernah bersedih terlalu berlarut-larut. Karena baginya, jika ayahnya melihatnya saat ini sebagai anak yang mandiri, maka ayahnya akan tersenyum bangga, bukan menangis sedih karena meninggalkannya.

”Ibu, apakah susu yang akan kuantar cukup segini?” tanya Lindy sambil menaikkan susu hasil perahan ibunya ke atas kotak besar tempat susu yang diikat di boncengan sepedanya.

”Cukup, Nak. Itu sudah pas dengan pesanan Tuan Daffort, yaitu sepuluh botol susu dan pesanan Nyonya Alberthein sepuluh botol. Apa kau yakin akan mengantarnya?” tanya ibu Lindy meyakinkan.

”Ibu, apa Ibu belum tahu kemampuanku. Aku ini anak perempuan yang tidak manja, Ibu.” kata Lindy sambil membusungkan dadanya dan berkacak pinggang.

Nonya Teresa hanya tersenyum bangga dan pastinya terharu akan sikap Lindy. Setelah mengenakan sepatu boots pemberian mendiang ayahnya, Lindy pun mengayuh sepedanya dengan santai menuju Naritha City yang berjarak sepuluh kilometer dari tempatnya tinggal. Lindy bernyanyi-nyanyi senang ketika mengayuh sepeda. Sama sekali tak ada guratan kebosanan, kemalasan, ataupun rasa letih di wajah Lindy. Seakan-akan ia hanya bersepeda santai tanpa membawa beban berat. Padahal, yang sekarang dibawanya kurang lebih sepuluh liter susu murni.

Akhirnya, sampailah ia di Naritha City .

“Akh, sekarang aku hanya tinggal mencari alamat Tuan Daffort dan Nyonya Alberthein. Kira-kira, dimana ya?” pikir Lindy.

Tiba-tiba…

“Zreesssh!!!” Suara mobil yang melaju sangat kencang nyaris menyerempet tubuh Lindy yang mungil. Tapi masih belum terserempet, karena lebih dulu ada seseorang yang menarik tubuh Lindy ke trotoar. Entah siapa, Lindy pun tidak mengenalnya. Laki-laki itu tiba-tiba saja datang entah dari mana dan hendak kemana kah ia sampai bisa dan sempat menyeret Lindy sebelum mobil itu yang menyeret tubuh Lindy. Lindy sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu, tapi ia sudah berlalu melihat tubuh Lindy yang tidak bermasalah.

“Hei! Tunggu! Siapa namamu? Terima kasih ya, telah menolongku!” teriak Lindy yang hanya dibalas senyum sekilas oleh laki-laki misterius itu. Ia kemudian berlalu meninggalkan Lindy dan sepedanya.

”Ah, laki-laki itu keren sekali. Ia telah menolongku. Pasti ia bukan orang sembarangan. Penampilannya saja sudah seperti orang kaya begitu. Ah, sudahlah. Aku tak boleh berharap yang tidak-tidak. Yang penting sekarang aku selamat dan bisa kembali mengantarkan susu-susu pesanan ini.” kata Lindy lirih.

Lindy terus menyusuri dari jalan satu ke jalan yang lain tanpa kenal lelah. Lindy terus mencari hingga jam kota menunjukkan tepat pukul sembilan. Padahal dari pagi perut Lindy belum terisi sebutir nasi. Tapi Lindy tetap berusaha mencari alamat itu. Alamat kali ini memang bukan langganan biasanya, mungkin pelanggan baru. Sekitar sepuluh menit mencari, akhirnya ditemukan juga! Komplek Renville blok O nomor 8.

”Tok! Tok! Tok! Permisi.” Lindy mengetuk pintu gerbang yang tingginya hampir setinggi gerbang istana. Waah! Ini rumah orang kaya, batin Lindy.

Pintu gerbang pun terbuka dengan sendirinya. Lindy sedikit heran, karena baru kali ini ia melihat pemandangan yang baginya menakjubkan. Gerbang sebesar itu bisa terbuka sendiri. Padahal, semua itu karena adanya remote control yang digunakan si pemilik rumah supaya tidak perlu lagi keluar melihat siapa yang datang.

”Permisi...” Lindy mengucapkan salam untuk yang kedua kalinya. Karena tak ada jawaban, Lindy memutuskan untuk pergi. Ia meletakkan susu pesanan itu di depan pintu rumah Tuan Daffort tersebut. Tapi tiba-tiba,,,

”Terima kasih, Nona. Maaf tadi tidak menjawab salam.” kata seseorang di belakang Lindy yang terdengar begitu mantap. Lindy pun berbalik dan hendak mengucapkan sama-sama. Namun suaranya tiba-tiba tercekat di tenggorokan karena melihat wajah bersinar dari seseorang yang berdiri di hadapannya sekarang.

”I..ii..i..ya, sama-sama.” kata Lindy terbata-bata. Seharusnya Lindy tidak seperti itu, entah kenapa wajah itu yang ternyata Tuan Daffort sendiri membuat suara Lindy tergagap dan tercekat di tenggorokan. Setelah membayar uang susunya, Lindy pun meninggalkan rumah Tuan Daffort.

Lindy kembali mengayuh sepedanya. Kini Lindy tak perlu bingung mencari alamat Nyonya Alberthein, karena sama-sama di komplek Renville, hanya beda blok saja. Nyonya Alberthein tinggal di blok J nomor 8. Sekitar empat jalur lagi yang harus dilewati Lindy. Sambil mengayuh sepedanya, Lindy terus membayangkan wajah Tuan Daffort yang tadi baru saja ditemuinya. Ah, aku bukan siapa-siapa. Jauh berbeda dengan Tuan Daffort yang kaya raya itu. Sudahlah, Lindy... Kau terlalu banyak mengkhayal! Lindy berkata pada dirinya sendiri. Lalu ia geleng-geleng kepala mengingat apa yang baru saja melintas di kepalanya. Tuan Daffort!

***

Setelah mengantar duapuluh botol susu, Lindy memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya karena ia masih belum mengerjakan tugasnya yang lain. Biasanya Lindy memberi makan hewan-hewan yang ada di peternakannya. Seperti sapi, kambing, domba, dan keledai. Juga memandikannya. Keledai hanya digunakan tenaganya untuk membawa rumput atau jerami. Keledai tidak diambil susu maupun dagingnya. Sedangkan untuk sapi perah, sudah jelas diambil susunya. Domba untuk persediaan susu jika si sapi masih belum bisa menghasilkan susu yang banyak sedangkan pesanan cukup banyak. Selain itu, juga dimanfaatkan bulunya yang hangat untuk pakaian semacam sweater.

”Bagaimana perjalananmu hari ini, Lindy?” tanya ibu Lindy sambil memberi minum sapinya. Sementara Lindy sedang membersihkan bulu domba dengan alat khusus.

”Ah, biasa saja, ibu. Hanya sedikit kesal karena saat mengantar pesanan Tuan Daffort, ia lama sekali keluar. Tapi, aku juga senang ibu. Ketika kusangka Tuan Daffort itu sudah tua, keriput, dan rapuh ternyata salah besar! Ia begitu gagah! Suaranya sangat keren, ibu.” Lindy tersenyum ketika menceritakan tentang Tuan Daffort kepada ibunya.

”Wah, betapa senangnya hatimu saat ini, Lindy. Bukankah begitu?” tanya ibu lagi. Sebenarnya hanya basa-basi. Ibu mana yang tidak mengetahui mimik muka anaknya yang sedang kegirangan.

Lindy hanya tersenyum dan mengangguk. Ia meneruskan pekerjaannya supaya cepat selesai. Ibu Lindy kembali ke dalam rumah. Ia harus mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Seperti mencuci piring, menyapu, dan mengepel.

Setelah selesai membersihkan bulu domba, Lindy menuju ke dalam rumah untuk mandi. Karena hari sudah sangat siang dan terasa panas. Walaupun tadi pagi ia sudah mandi. Tapi kali ini, Lindy ingin mandi lagi karena badannya terasa gerah. Ia mengambil peralatan mandinya dan segera menuju sungai yang mengalir deras dengan batu-batuan besar di tengah-tengahnya. Memang disitulah Lindy biasa mandi. Walaupun sungai, airnya sangat jernih. Tak pernah tersumbat, alirannya selalu deras, airnya pun sangat jernih dan segar. Maklum, peternakan dan rumah Lindy dekat dengan gunung yang masih aktif. Tentu saja tanah di sekitar rumah Lindy sangat subur. Jadi sangat bagus untuk pertumbuhan pohon-pohon dan rerumputan.

***

Lindy mandi sambil bernyanyi riang di sungai. Ia berulang kali memercikkan air ke tepi sungai. Lindy sangat menikmati dingin dan segarnya air dari sungai. Sementara di sungai Lindy sedang mandi, tidak demikian denga Tuan Daffort. Ya! Dia adalah salah satu pelanggan Lindy yang membuat Lindy berbicara dengan terbata-bata karena kegagahannya dan kemantapan suaranya.

Daffort Hitler, nama asli dari Tuan Daffort sedang berdiri di dekat jendela kamarnya sambil menikmati susu hasil perahan sapi dari peternakan milik Lindy. Daffort masih membayangkan wajah sang pengantar susu yang datang ke rumahnya pagi-pagi. Ternyata wajah natural Lindy juga mampu memikat hati seorang Daffort!

”Gadis itu sungguh memukau. Pakaiannya sederhana dan wajahnya juga tidak dipoles bedak tebal, seperti kebanyakan wanita yang ingin bertemu denganku. Ia sungguh-sungguh anak yang polos dan sungguh luar biasa dalam pandanganku. Matanya menatapku dengan penuh. Suara saat ia mengucapkan permisi sungguh lembut terdengar di telingaku. Ah, ada-ada saja aku ini! Bukankah aku adalah orang yang lebih dari pada dia? Aku punya segalanya, sedangkan dia? Hanya pengantar susu yang bisanya hanya merayu laki-laki sepertiku. Ah, sudah! Lupakan, Daffort... Lupakan...” Daffort tiba-tiba merasa telah membohongi dirinya sendiri. Ia juga tetap menjaga gengsinya untuk mengakui bahwa ia sebenarnya menyukai penampilan sederhana Lindy.

Sore ini, Claurella, pacar dari Daffort Hitler akan datang menuju rumahnya untuk mengadakan makan malam bersama. Mereka akan merayakan kemenangan ayah Daffort dalam perlombaan balap kuda. Itu menunjukkan bahwa walaupun sudah tua, ayah Daffort masih tetap bisa mengendarai kuda sambil berlomba-lomba dengan kecepatan yang bukan main. Nyaris seperti mobil balap!

”Tok! Tok! Tok!” suara pintu kamar Daffort diketuk seseorang dari luar.

”Siapa?” tanya Daffort masih dari dalam kamarnya memandang lukisan karya pelukis terkenal dari Perancis yang ia beli sekitar tiga bulan yang lalu.

”Ada surat dari Claurella, Daffort. Keluarlah. Sepertinya kau berubah sikap padanya. Sampai-sampai ia mengirim surat padamu.” ternyata itu suara Ibu dari Daffort yang ingin menyampaikan surat dari Claurella, pacar Daffort.

”Letakkan saja di depan pintu kamarku. Pasti aku membacanya. Terima kasih, Bu. Aku sama sekali tidak berubah.” Daffort masih juga tidak mau keluar dari kamarnya. Ia masih tetap asyik dengan kegiatannya. Matanya menyapu bersih seisi kamar. Semua yang tampak di matanya sungguh indah. Padahal, ini bukan kali pertama ia melihatnya.

”Ya, sudah. Kalau itu yang terbaik untukmu, Ibu letakkan surat dari Claurella di depan pintu kamarmu. Ingat! Bacalah surat darinya, siapa tahu itu penting.” Ibu Daffort berlalu meninggalkan kamar Daffort menuju dapur untuk menyuruh koki rumah memasak hidangan spesial untuk makan malam nanti yang akan dihadiri dua keluarga besar. Yaitu, keluarga besar Daffort Hitler dan keluarga besar Claurella Cambridge.

***

”Lindy, ibu rasa kau tidak tepat melakukan pekerjaan ini. Setiap pagi kau harus memberi makan domba, keledai, sapi, dan kambing. Setelah itu kau juga harus mengantarkan pesanan susu ke kota. Pulangnya, kau harus membersihkan badan hewan-hewan. Kau perempuan yang masih sangat muda, tapi kerjamu sudah seperti orang yang berpengalaman bekerja. Ibu salut denganmu, nak. Apakah kau tidak ingin hidup seperti kebanyakan gadis kota? Yang selalu dimanja, disukai banyak laki-laki, juga menjadi anak yang cantik dan bersih.” Ibu Lindy berkata panjang lebar pada Lindy sambil mengelus-elus rambut Lindy yang sengaja diurai. Cantik sekali! Beda dari Lindy yang biasa mengantar susu yang berpenampilan tomboy tapi tidak keterlaluan.

”Maksud ibu, aku jelek dan kotor? Begitu?” tanya Lindy tidak mengerti apa yang dari tadi ibunya katakan. Mungkin karena tidak mengarah pada inti, membuat Lindy yang tidak suka basa-basi menjadi tidak paham dengan apa yang ibunya katakan.

”Bukan seperti itu. Maksud ibu adalah, apakah kau tidak ingin selalu mengenakan pakaian yang indah dan tata rias yang anggun. Juga memiliki barang-barang yang serba ”wah!” seperti anak gadis seumuranmu?” tanya Ny.Teresa pada Lindy.

“Ah, ibu ada-ada saja. Aku bukan anak yang suka minum susu lewat botol dengan karet di atasnya sebagai perantaranya. Maksudku, aku bukanlah anak yang manja dan ingin dimanjakan. Aku merasa senang dengan apa yang aku dapatkan sekarang. Bahkan, aku sangat bersyukur pada Tuhan karena telah diberikan kesempatan untuk hidup sebagai pengantar susu. Jika aku tidak menjadi pengantar susu, pasti aku tidak akan hidup seperti sekarang, bahkan bisa saja aku menjadi anak yang penyakitan karena harus melakukan operasi pelastik pada bagian tertentu pada tubuhku untuk memikat para laki-laki seperti yang terjadi di kalangan remaja seumuranku sekarang. Memangnya, kenapa Ibu bertanya seperti itu padaku?” tanya Lindy tidak mengerti.

“Ah, tidak apa-apa. Ibu bangga memiliki anak sepertimu. Tidak pernah manja, juga tidak pernah menyusahkan orang tua. Ibu benar-benar bangga telah memiliki anak sepertimu, Lindy.” Ibu memeluk Lindy dengan erat lalu melepaskannya dan mengecup kening Lindy. Lindy tersenyum lalu mengucapkan terima kasih pada ibunya.

”Terima kasih, Ibu. Aku tak akan bisa seperti ini jika aku tidak dididik oleh orang tuaku yang sangat menyayangiku dan sangat kusayangi. Ya, walaupun tanpa ayah.” Lindy tersenyum lebar. Ia sangat bahagia terlahir sebagai Lindy yang sekarang ini. Walaupun ia hanya seorang pengantar susu, tapi semangat hidupnya sudah menyerupai seorang pengusaha kaya yang tinggal duduk di sofa empuk menunggu datangnya uang. Itulah sosok Lindy yang sederhana, rajin, juga patuh pada orang tuanya. Sifat seperti itu patut sekali untuk kita contoh. Karena dengan begitu, kita akan menjadi anak yang berguna dan bermanfaat bagi orang. Bukankah hidup kita untuk menjadi orang yang berguna bagi semua orang? Tapi, untuk digaris bawahi, bukan sekedar dimanfaatkan dalam artian segalanya kita. Tapi, berguna dan bermanfaat bagi orang lain adalah kita selalu ada dan bisa disaat orang membutuhkan kita.

***

Dua

Malam ini, akan ada acara makan malam dua keluarga besar di rumah Daffort Hitler. Ia mengundang keluarga Claurella Cambridge. Sebenarnya, ini hanya pertemuan makan malam biasa, tapi ibu dari pihak Daffort yaitu Mrs. Jullie menginginkan adanya suatu ikatan diantara putra kebanggaannya dan Claurella. Ya, semacam pertunangan. Dan pada akhirnya, Daffort hanya bisa setuju dengan apa yang diinginkan sang Ibu. Malam ini adalah malam pertunangan Tuan Daffort Hitler dan Nona Claurella Cambridge yang sangat anggun.

”Ibu...” panggil Daffort.

”Ada apa? Tingkahmu masih seperti anak kecil sekali, Daff.” Daffort terbiasa dipanggil Daff untuk mempersingkat namanya. Daffort memang masih sedikit manja pada kedua orang tuanya karena memang ia adalah anak bungsu di keluarganya. Sedangkan kakak-kakaknya perempuan semua ada dua orang yang berparas cantik seperti ibu mereka. Sedangkan Daffort berwajah tampan dan tubuh tinggi semampai seperti ayahnya.

”Apa Ibu tidak memikirkan diriku yang merasa kurang pantas untuk bertunangan dengan Claurella. Ibu tau, aku sangat manja. Sedangkan ia, sepertinya ia begitu dewasa dilihat dari penampilan dan cara berbicaranya.” Daffort berharap ibunya membatalkan acara petunangan yang akan digelar sekitar duapuluh menit lagi. Tapi, sepertinya bujukan Daffort akan sia-sia. Karena keluarga dari Claurella akan segera tiba. Mereka masih di ”Nice Gates” membeli sesuatu.

”Apa maksudmu membatalkan pertunangan ini? Jangan buat malu keluarga, Daf! Kau adalah anak laki-laki dari kami satu-satunya. Kau harus jadi lelaki gentleman! Lagipula ini kan masih pertunangan, bukan pernikahan. Kau masih bisa menjalaninya dan mengetahui sifat Claurella lebih dalam. Kalau kau masih merasa belum cocok, kau baru bisa batalkan. Memangnya, ada perempuan lain yang membuatmu terpikat? Ibu lihat gerak-gerikmu berubah. Dulu, kau dan Claurella sangat dekat seperti sudah menjadi suami istri. Sekarang, kau jarang sekali meluangkan waktumu dan Claurella. Bahkan kau malah menanyakan pantas atau tidak kau bertunangan dengannya. Itu benar-benar aneh.” Ibu Daffort berkata panjang lebar pada Daffort.

”Ibu, bukan itu maksudku. Sudahlah, sebentar lagi mereka datang. Sebaiknya kita segera turun ke bawah.” Daffort mencoba mengalihkan pembicaraan. Karena ia tidak ingin hanya karena masalah sepele ini, ia harus berdebat dengan ibunya. Daffort dan ibunya beriringan turun ke bawah menuju ruang pertemuan.

Ternyata keluarga Claurella telah menunggu di ruang makan. Segera saja Daffort dan ibunya menuju ruang makan keluarga yang memiliki ruangan yang sangat besar. Dengan meja panjang dan kursi sebanyak duapuluh empat buah. Daffort sedikit gugup ketika Claurella tersenyum ke arahnya. Ia seperti kikuk melihat Claurella. Tiba-tiba, bayangan wajah pengantar susu langganannya terlintas.

”Ah, kenapa aku terus membayangkan wajahnya? Tuhan...” ucap Daffort dalam hati. Entah mengapa, bayangan Lindy selalu datang dan pergi di kepala Daffort. Sepertinya, Daffort mengalami suatu rasa yang sulit diungkapkan. Ia merasa jatuh cinta pada pandangan pertama pada Lindy. Meskipun ia belum tahu, siapa nama gadis pengantar susu yang ia temui pagi itu.

Untuk menutupi rasa gugupnya, ia segera duduk tanpa memandang siapapun yang ada di meja makan. Ia terus tertunduk. Hanya tersenyum ketika ada yang berbicara tentangnya dan Claurella. Saat ditanyapun ia selalu menjawab dengan kata-kata dan kalimat yang cukup singkat. Daffort memang sulit ditebak!

Daffort dan lainnya makan malam dengan perkataan basa-basi dari sekitarnya. Ia masih terus berusaha menutupi ke-kikuk­-annya dengan diam tidak ikut campur. Claurella dengan anggun duduk di sebelah ibunya, Nyonya Dimsdale. Ia mengenakan gaun merah muda bersih yang menjuntai hingga menyentuh lantai. Dengan aksen bunga dan renda di sekeliling lehernya. Rambutnya disanggul rapi dihiasi mahkota kecil yang pas di kepalanya. Ia nampak semakin cantik dan anggun. Dengan hati-hati ia memotong beef sticknya. Takut loncat dari piringnya dan membuat malu seluruh keluarganya.

”Jadi, bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Claurella, nak?” Ibu Daffort bertanya pada Daffort sambil tersenyum. Daffort bingung harus berbuat dan menjawab apa. Lalu, dengan gugup dan kaku ia menjawab,

”Ehm, aku ingin membawa hubunganku dengan Claurella lebih serius.” lalu Daffort kembali tertunduk. Ia sebenarnya sedih, karena harus membohongi dirinya sendiri dan juga orang lain, terutama Claurella!

Claurella yang mendengar pernyataan Daffort tersenyum sangat manis. Lalu ia mengambil satu buah anggur yang tepat berada di sebelahnya dan mengupasnya sebelum dimasukkan ke dalam mulutnya. Orang tua Daffort dan Claurella tersenyum melihat tingkah Daffort yang sepertinya malu-malu saat mengucapkan kata-kata ingin bertunangan. Padahal itu bukan malu-malu, tapi suatu kebohongan yang ditutup-tutupi. ”Ah, semua memang tidak ada yang bisa mengerti perasaanku!” rutuk Daffort dalam hati.

”Ah, kau bisa saja. Sekarang, keluarkanlah cincin yang ingin kau berikan pada Claurella. Ayo, jangan malu-malu.” Ayah Daffort berkata sambil menyiku lengan Daffort yang membuatnya semakin terkejut. Oh, God!

Daffort pun memasukkan tangannya ke dalam saku jasnya yang mahal itu. Lalu, ia membuka kotak cincin yang berbentuk hati itu dan memakaikan cincin itu di jari manis Claurella. Lengkap sudah kebahagiaan Claurella. Terlahir sebagai gadis yang berada, cantik, pintar, dan sekarang, dipinang oleh pria tampan, cerdas, kaya pula! Tapi, tidak demikian dengan Daffort. Batinnya semakin mejerit kencang, kencang sekali! Wajah Lindy kembali terlintas. Seakan-akan Lindy tersenyum di atas meja makan dan menyaksikan sendiri proses pemasangan cincin ke jari manis Claurella. Daffort seakan melihat Lindy meneteskan air mata, padahal itu hanya bayangan yang terbentuk dari lampu besar di atas meja makan.

”Indah sekali. Terima kasih ya, Daf. Kau memang selalu memukau. Sama seperti cincin ini.” Claurella memandangi cincinnya yang baru saja dipasangkan Daffort, pujaan hatinya. Daffort tidak bergeming. Ia hanya tersenyum sekilas lalu kembali memalingkan mukanya. Matanya menyapu bersih seluruh ruang makan. Seperti orang yang baru saja melihat ruang makan sebesar itu. Padahal sudah berulang kali. Tapi, entah kenapa, ia merasa muak melihat sekelompok orang yang berada di hadapannya sekarang.

”Bisakah aku permisi ke kamar kecil?” Daffort mendadak ingin ke kamar kecil. Saat ia meminta ijin, semua mata menghadap ke arahnya. Ia langsung berlalu meninggalkan kursinya. Sebenarnya, ia tidak sedang ingin ke kamar kecil. Hanya alasan. Ia ingin kembali ke kamarnya dan menghabiskan waktunya disana.

”Siapakah namamu, gadis cantik?” Daffort berkata sendiri di kamarnya sambil melihat label botol susu pesanannya yang diantarkan oleh Lindy. Ia ingin sekali menuju rumah Lindy dan menanyakan namanya. Tapi, ia bingung dimanakah rumah Lindy. Lalu, ia berinisiatif untuk memesan kembali susu segar itu.

Dirasa lama sekali Daffort tidak kembali ke tempatnya, keluarga Claurella mohon ijin kembali pulang. Karena hari juga sudah malam. Akhirnya, merekapun pulang. Hati Daffort sangat senang. Ia melepaskan semua pakaian rapi yang membalutnya. Ia lalu mengambil piyama di lemarinya dan menyikat giginya untuk bersiap tidur. Saat ia sedang asyik mencuci muka, ia dikejutkan oleh suara ketukan pintu kamarnya dari luar. Ia berkumur-kumur lalu meletakkan sikat giginya.

”Iya, siapa?” tanya Daffort dari dalam kamar berjalan ke arah pintu.

”Keluarlah, anak tidak punya sopan santun!” Daffort menghentikan langkahnya. Ia tahu, itu suara ayahnya. Ia bingung, harus berbuat apa. Tadi ia terlanjur menjawab saat ayahnya mengetuk pintu. Sangat tidak mungkin jika ia berpura-pura tidur. Pasti akan ketahuan. Dengan memberanikan diri, Daffort menemui ayahnya di depan pintu kamarnya.

”Ada apa ayah?” tanya Daffort seolah-olah tidak tahu akan kejengkelan ayahnya padanya.

”Kau memang tidak tahu malu! Kau meninggalkan tamu begitu saja! Apa maksudmu ingin mempermalukan ayah dan ibumu di depan keluarga Claurella? Hah!” ayah Daffort membentak ketika ia melihat Daffort dengan santai berdiri di ambang pintu.

”Aku tidak bermaksud seperti itu, ayah. Aku hanya ingin ke kamar kecil tadi. Lalu, tiba-tiba aku merasa mengantuk sekali. Maka dari itu, aku langsung ke kamarku dan berganti pakaian untuk bersiap tidur. Memangnya orang sepertiku tidak boleh mengantuk. Aku juga bisa lelah, ayah. Apa berarti itu membuatmu malu di hadapan keluarga Claurella? Jika benar begitu, maafkanlah aku ayah. Apa kau tega membiarkan anakmu terkantuk-kantuk di hadapan tamu tapi tetap memaksakan diri?” Daffort mencoba memberi alasan yang kira-kira masuk akal.

”Ah, sudahlah! Lupakan saja!” ayah Daffort pun meninggalkan Daffort di kamarnya. Ia kembali menuju ruang makan menemui istrinya.



***



Tiga

Seperti biasa, pagi ini Lindy harus mengantarkan pesanan susu ke kota. Kali ini ia harus mengantarkan susu ke daerah Bougenville. Jaraknya lebih dekat dari pada ke rumah Tuan Daffort maupun Nyonya Alberthein kemarin. Padahal, walaupun jauh, Lindy tetap senang mengantarkannya. Kalau saja ia tidak mengantarkan susu itu, ia pasti tidak akan pernah melihat wajah tampan sang Daffort Hitler, juga tak akan mendengar suara indah Daffort. Ia sangat bersyukur telah menjadi seorang pengantar susu. Ia sangat berharap bisa mengantar ke rumah Tuan Daffort lagi.

”Lindy, antarkan ini ke rumah Tuan Dessel di Jalan Bougenville nomor tujuh. Lalu, ke tempat Nona Lully di Bougenville juga nomor sembilan. Tidak terlalu jauh, bukan? Jadi kau tidak perlu mencari dua tempat. Karena mereka berdampingan.” kata ibu Lindy sambil menaikkan botol-botol susu ke atas keranjang sepeda Lindy.

”Iya, bu. Aku pergi dulu ya!” Lindy menaiki sepedanya dan bergegas pergi. Mumpung hari masih pagi, tentunya udara masih sangat segar untuk dihirup. Pagi-pagi sekali ibunya telah memerah susu sapi.

“Hati-hati di jalan!” ibu Lindy setengah berteriak karena Lindy sudah agak jauh dari pandangannya. Ia melambaikan tangannya. Lindy menoleh ke belakang lalu membalas lambaian tangan ibunya.

Lindy mengantar dengan hati yang sangat riang. Ia menyanyi-nyanyi di sepanjang jalan. Ia merasa lebih enak mengantar pada pagi hari seperti ini. Karena saat ia melintasi jalan, udara masih alami. Masih segar! Daun-daun masih basah oleh embun, juga masih ada kabut putih yang menutupi. Walaupun sebenarnya menghirup kabut itu tidak boleh. Tapi, Lindy melihat itu semua sangat indah. Lindy sangat menyukai itu.

Sekitar pukul tujuh pagi, Lindy sampai di Bougenville Street. Lindy pun mencari-cari alamat dari Tuan Dessel dan Nona Lully. Saat hendak memasuki jalur empat di Bougenville Street, Lindy melihat bayangan orang yang sedang mengendarai sepeda gunung. Lindy tidak menghiraukannya, ia tetap berlalu mencari alamat tujuannya. Setelah semua susu diantar dan ia hendak beristirahat sejenak sambil menikmati bekal susunya, Tiba-tiba...

”Hei, bukankah kau yang mengantarkan susu ke rumahku?” tanya seseorang di belakang Lindy. Lindy berharap bukan hantu yang sedang bertanya padanya. Tapi, kalau hantu pun tak akan mungkin. Mana mungkin ia mengantarkan susu ke pemakaman! Lindy pun menoleh ke belakang. Saat dilihatnya, ternyata...

”Tuan Daffort? Ya, aku yang mengantarkan susu ke rumahmu pagi itu. Wah, kebetulan sekali ya, kita bertemu! Kau pasti sedang bersepeda santai ya?” Lindy mencoba berbasa-basi dengan laki-laki yang ada di hadapannya. Walaupun hatinya terus berdebaran karena ia sedang berhadapan dengan orang paling kaya kedua setelah Raja Freshland.

”Ehm, iya. Kebetulan, hari ini aku punya waktu untuk bersepeda. Biasanya, aku sibuk mengurus pekerjaan ini itu. Kebetulan sekali hari ini sedang kosong. Kau sendiri, pasti sedang mengantarkan susu seperti biasa ya?” tanya Daffort yang membuat wajah Lindy memerah. Untuk menutupi wajahnya yang mulai memerah karena malu, Lindy hanya tertunduk mendengarkan apa yang dikatakan oleh Daffort.

”Iya, aku sedang mengantarkan susu. Kebetulan aku membawa lebih. Apa kau mau? Aku memang sengaja membawa lebih untuk kuminum saat aku mulai letih.” Lindy menawarkan jatah susunya yang ada dua botol. Pas sekali! Untuknya dan Daffort. Itupun kalau Daffort mau. Kalau tidak, yaa Lindy yang meminumnya sendiri dua botol. Lindy kemudian menyodorkan satu botol susu itu ke Tuan Daffort.

”Ehm, mulai sekarang, kau tak perlu memanggilku dengan sebutan Tuan. Panggil saja aku Daffort atau biasa aku dipanggil. Daf. Oh iya! siapa namamu?” Daffort menjulurkan tangannya mengajak berkenalan. Ternyata, Daffort adalah orang kaya yang tidak sombong, malah ramah sekali! Lindy membalas uluran tangan Daffort. Mereka berjabatan.

”Daffort!”

”Lindy!”

”Wah, namamu lucu ya! Hehehe...” Daffort tertawa kecil setelah mendengar nama Lindy. Baginya, namanya sangat lucu. Seperti nama anak kecil.

“Ah, kau bisa saja Daf.” Lindy tersipu mendengar perkataan Daffort. Ia pun menenggak susunya yang sudah berkurang hingga ukuran leher botol. Daffort pun melakukan hal yang sama. Mereka tertawa saat mereka sama-sama berhenti minum susu.

”Rumahmu dimana Lindy? Bolehkah aku bermain kesana jika ada waktu?” Daffort memandang raut wajah Lindy yang polos dengan pandangan mata yang penuh.

”Rumahku jauh dari sini. Lagipula, rumahku adalah pedesaan. Jadi, mungkin kau akan tidak suka melihat rumahku yang juga tidak jauh dari peternakan sapi, kambing, domba, dan keledai.” kata Lindy menjelaskan sebelum akhirnya Daffort menuju ke rumahnya.

”Aku tak pernah memilih-milih jika berteman. Semua orang bisa menjadi temanku. Lagipula, siapa tahu aku rindu dengan susu hasil perahan ibumu ini. Jadi aku bisa leluasa ke rumahmu tanpa harus memesan lewat telepon. Dengan begitu, aku bisa melihat proses pembuatan susu ini dari mulai sapi sampai menjadi botol seperti ini.” Daffort menjelaskan panjang lebar.

”Baiklah, rumahku di dekat aliran sungai yang penuh bebatuan. Biasanya orang menyebut desaku adalah Green Village. Ya, itu karena desaku masih alami. Belum banyak bangunan disana. Semuanya serba dari alam. Tapi aku cukup senang tinggal disana. Benarkah aku akan berkunjung ke rumahku jika ada waktu?” tanya Lindy tak percaya. Bukankah biasanya orang kaya tidak mau menginjakkan kaki di desanya.

”Iya. Ehm, sepertinya kita mengobrol terlalu lama. Aku harus kembali. Aku yakin, kau pasti juga harus menyelesaikan pekerjaanmu yang lain. Bukan begitu, nona?” kata-kata Daffort dan pandangan mata Daffort yang jernih membuat Lindy tak sanggup berkata banyak.

”Iya, maaf telah menyita waktu sibukmu. Permisi,” kata Lindy mulai mengayuh sepedanya, begitu pun Daffort. Hanya saja mereka berbeda arah. Lindy ke arah timur, sedangkan Daffort ke barat.

Lindy pun mengayuh sepedanya dengan semangat. Ia ingin segera pulang ke rumahnya dan ingin segera mencuci mukanya dengan air jernih di sungai di dekat rumahnya. Untuk memastikan apa yang baru saja ia alami itu mimpi atau bukan. Lindy tersenyum di sepanjang perjalanan. Ia menyapa setiap orang yang dikenalnya. Semua orang heran melihat sikap Lindy pagi ini. Tampak ceria sekali!

Setelah sampai di rumah, Lindy langsung meletakkan sepedanya dan mengganti pakaiannya. Ia menuju sungai dan mencuci tangannya dengan air yang jernih itu. Lalu ia membasuhkan ke mukanya. Ternyata benar! Ia tidak sedang bermimpi! Terima kasih, Tuhan... Lindy berkata dalam hati.

***




Karya : Dyah Ayu Tania

ESSAI : Aku, Pena, dan Dakwah Kepenulisan

Aku tidak dapat menjauh dari pena yang selalu kugunakan untuk menulis dan menulis. Dakwah kepenulisan juga membantuku untuk mengetahui segala hal yang mengarah kepada suatu karya dalam bidang tulis menulis. Sehingga aku, pena dan dakwah kepenulisan itu tidak dapat terpisahkan satu sama lain.

Melalui pena, kita dapat mengantarkan negara kita kepada kemajuan di dalam suatu peradaban dunia. Karena bisa saja, pada saat kita membuat suatu karya tulis dan karya tulis kita itu dibaca oleh orang lain, karya tulis kita itu dirasa memiliki nilai positif sehingga mampu mensuggesti seorang pembaca untuk melakukan apa yang telah kita tuangkan ke dalam suatu karya tulis kita tersebut.

Dakwah kepenulisan juga berguna untuk terciptanya suatu karya tulis. Karena dengan adanya suatu dakwah kepenulisan ataupun penataran yang menjurus ke arah tulis menulis, maka akan terlahir suatu pemikiran bahwa menulis itu sebenarnya mudah dan sangat bermanfaat. Bagi sebagian besar orang, menulis dianggap sebagai suatu hal atau pekerjaan yang sulit dilakukan karena saat akan membuat karya tulis harus berpikir terlebih dahulu apa yang akan dituliskan. Juga tak sedikit orang mengatakan menulis itu adalah suatu hal yang sangat tidak bermanfaat. Karena selain menguras tenaga juga menghabiskan waktu sia-sia. Dibaca orang belum tentu, diterbitkan juga belum pasti. Juga membutuhkan waktu yang lama untuk menulis yang akan mengurangi waktu seseorang untuk melakukan hal-hal lain yang menurut mereka menyenangkan seperti bermain ataupun yang lainnya.

Padahal kenyataannya, menulis itu adalah suatu hal yang sangat mudah bahkan bisa dikatakan menyenangkan. Karena kita dapat dengan mudah mencari ide-ide dari sekitar kita untuk kita tuangkan ke dalam suatu karya tulis. Apalagi kita hidup tidak sendiri, ada alam dan orang-orang di sekitar kita yang bisa kita jadikan objek dalam suatu karya tulis yang kita buat. Seperti contohnya, kita tidak perlu jauh-jauh berpikir tentang apa yang dikerjakan orang di manca negara untuk membuat karya tulis kita menjadi lebih menarik. Karena, malah itu yang akan membuat kita tersendat dalam membuat suatu karya tulis. Karena kita tidak tau persis dengan apa yang terjadi di negara luar sana. Mengapa kita tidak mencari gampangnya saja? Kita bisa menuliskan apa-apa saja yang kita lakukan sehari-hari ataupun yang terjadi di sekitar kita. Bahkan, itu yang akan bagus untuk dibaca karena kesannya natural dan tidak butuh waktu banyak untuk memahami isinya karena mengandung bacaan yang mengangkat hal-hal sehari-hari yang banyak dilakukan oleh kita dan mungkin dilakukan oleh orang lain juga.

Jadi, aku, pena, dan dakwah kepenulisan yang sudah pada dasarnya tidak dapat terpisah itu dikarenakan mereka saling membutuhkan. Bayangkan saja, dengan adanya aku atau seseorang, tanpa adanya sarana prasarana yang digunakan untuk menulis seperti pena ataupun alat-alat lain yang dapat digunakan untuk menulis, maka tidak akan tercipa sebuah tulisan. Karena tidak adanya media untuk membuat suatu karya tulis. Begitupun sebaliknya, jika ada pena saja tanpa ada manusianya untuk menggerakkan ataupun tidak adanya niatan dari seseorang untuk membuat suatu karya tulis, maka pena atau saran prasarana yang memadai pun hanya akan teronggok begitu saja.

Semua itu juga harus ditunjang oleh adanya dakwah kepenulisan karena itu merupakan suatu sumber kita atau seseorang dalam membuat suatu karya tulis. Walaupun sekarang telah banyak dijual buku-buku yang isinya adalah petunjuk ataupun cara-cara menulis supaya menjadi mudah, tetap saja dibutuhkan adanya dakwah kepenulisan. Karena kehadiran buku ter sebut masih dianggap terlalu teoritis sehingga lebih sulit dipahami oleh para pembaca maupun penulis pemula. Dakwah kepenulisan dianggap paling efektif sebab adanya sesi tanya jawab antara narator dan audience. Maka seseorang akan lebih mudah memahami segala hal yang belum ia ketahui mengenai tulis menulis melalui pertanyaan yang ia ajukan dan langsung dijawab oleh narator.

Adanya seseorang atau aku dan pena hanya akan menciptakan suatu karya tulis yang tidak bermutu yang hanya akan memenuhi draft komputer ataupun buku yang seharusnya berisi tulisan-tulisan yang bagus dan bermutu. Maka dari itu peranan dakwah kepenulisan sangat dibutuhkan juga oleh seseorang dalam membuat suatu karya tulis. Karena karya tulis yang baik adalah karya tulis yang diterima oleh masyarakat banyak. Mereka membacanya juga tidak bosan dan yang paling penting adalah dalam suatu tulisan itu terdapat amanat ataupun bagian yang dapat mempengaruhi seorang pembaca untuk melakukan hal positif yang telah kita tuliskan ke dalam suatu karya tulis. Juga penuh dengan wawasan. Karena pada saat pembaca membaca tulisan kita, pikirannya akan berjalan searah dengan apa yang ia baca. Jadi, jika tulisan kita sama sekali tidak berwawasan dan sama sekali tidak menarik, maka tulisan kita itu hanya akan dibaca satu orang kemudian tidak akan dibaca lagi karena dianggap tidak menarik dan tidak dapat meningkatkan pola pikir pembaca tersebut. Jika sudah begitu, jangan sekali-sekali beranggapan tulisan kita adalah tulisan yang baik. Karena banyak pembaca yang sangat selektif dalam memilih buku yang ia baca. Ia hanya akan membaca buku yang menurutnya baik untuk dibaca dan memiliki pengaruh positif baginya.

Selain itu, etika menulis dan cara menulis juga harus diperhatikan. Jangan sampai ada cacat dalam penulisan kita, ataupun salah dalam menuliskan karakter, tanda baca ataupun bahasa yang tidak sopan dan tidak sepantasnya dibaca oleh umum. Karena yang membaca tulisan kita bukan saja anak kecil yang tidak mengetahui apa-apa namun juga dibaca oleh beberapa orang yang ahli dalam bidang sastra terutama di bidang kepenulisan. Maka bisa saja setelah membaca tulisan kita, ia langsung menghubungi alamat yang tertera atau menyampaikan kritikan langsung kepada penerbit atau bahkan bisa jadi kepada penulisnya langsung. Dan hasilnya, rasa malu yang bisa kita keluarkan. Maka dalam menulis, kita juga sangat membutuhkan seorang editor yang mau dan yang pastinya bisa memperbaiki cara kita dalam membuat suatu karya tulis.

Bagaimana, mudah bukan membuat suatu tulisan itu? Dan, betapa mudahnya bukan menemukan ide-ide yang kita tuangkan ke dalam tulisan kita? Ya, karena itu ada di sekeliling kita. Jadi, selamat berkreasi dengan pena anda! Jangan takut untuk melakukan kesalahan dalam membuat karya tulis. Karena satu kali salah itu biasa, dua kali salah juga masih biasa. Hingga ke dua belas kali kita salah dan pada tulisan kita yang ketiga belas kita mampu membuat suatu perubahan? Itu baru namanya Luar Biasa!

Buatlah negara ini maju dengan karya tulis anda.

Salam...

oleh: Dyah Ayu Tania