Senin, 14 Juni 2010

Cahaya Baru dari Stem Cell

Banyak dari kita selalu mengeluhkan kerja seorang dokter yang tidak dapat menyembuhkan penyakit yang diderita oleh pasiennya. Lebih dari 50 % penyakit itu tidak ada obatnya, sebut saja penyakit cedera tulang belakang, HIV, H1N1 dan masih banyak lagi penyakit lainnya masih dalam bayang-bayang pudarnya ilmu pengetahuan. Kebanyakan obat yang kita minum hanya bersifat simtomatik artinya hanya menyembuhkan gejalanya saja tanpa langsung memusnahkan penyebab penyakit. Sebagian besar penyakit yaitu idiopatik artinya tidak diketahui penyebab yang jelas. Obat tersebut bukanlah obat yang cocok untuk penyakit tertentu bila gejala klinis dan memiliki penyebab yang tidak diketahui maka yang diberikan adalah obat dari penyakit lain. Bukan hanya. Itu walaupun sudah ditemukan obatnya kadangkala suatu penyakit tersebut diduga tidak dapat disembuhkan karena terlalu parah atau mempengaruhi alat vital tubuh contohnya jantung dan paru-paru.

Walupun demikian ilmuwan baik lokal maupun mancanegara terus melakukan penelitian dengan menggunakan dana yang tidak sedikit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Dalam proses pemikiran yang dilanda kebingungan dokter dan ilmuwan terus berusaha untuk menyembuhkan penyakit ganas tersebut sampai pada akhirnya ilmuwan mendapatkan pencerahan. Ilmuwan tersebut adalah Ernest A. McCulloch dan James E. Till menemukan sel punca (stem cell) pada tahun 1960. Hal tersebut merupakan kabar yang menggembirakan karena membuka ilmu baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Penelitian tentang sel punca (stem cell) sedang dikembangkan karena masih penuh dengan misteri. Adanya sel punca dapat memberikan cahaya baru bagi pengobatan penyakit yang selama ini belum ditemukan obatnya dan bersifat regeneratif dan kronis . Masalah kesehatan dilaporkan dapat disembuhkan dengan sel punca seperti, amputasi kelenjar limfe, trauma sumsum tulang belakang, gangguan saraf, diabetes, rekontruksi payudara, perbaikan calvaria dan lain-lain.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengambil sel punca karena dilaporkan bahwa sel punca berada di seluruh bagian tubuh. Indonesia khususnya kota-kota besar seperti Jakarta telah melakukan penyimpanan darah tali pusat bayi yang baru dilahir karena penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa darah tali pusat mengandung sel punca yang bersifat pluripotent, dapat berdifferensiasi menjadi sel penyusun 3 lapisan germinal.

Prestasi terbaik bagi Indonesia, dokter Indonesia telah melakukan terapi sel punca untuk mengobati Acute Myocardial Infraction, AMI (blokade arteri koronaria). Tim ini terdiri dokter dari RSCM dan RS kanker Dharmais yang dipimpin oleh Prof Dr. Teguh Santoso. Beliau telah melakukan terapi ini kepada enam orang pasien AMI.

Keuntungan menggunakan terapi stem cell adalah kemampuannya dapat berdiferensiasi dan berpoliferasi membentuk jaringan sesuai dengan tempatnya yang telah mengalami kematian sel.

Penelitian baru pada tahun ini kembali mengugah dunia khususnya Indonesia. dr Caroline Tan Sardjono, Ph. D. , seorang dokter yang masih muda berasal dari Stem Cell and Cancer Institute telah melakukan isolasi sel punca mesenkimal yang sangat berpotensial bagi riset maupun aplikasi klinis dari lipoaspirate yang merupakan produk buangan liposuction. Penggunaan lipoaspirate sebagai sel punca tidak pernah digunakan jika dibandingkan dengan sumsum tulang belakang. Sel punca mesenkimal bersifat multipotent, dapat berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel. Penelitian ini menyimpulkan bahwa lipoaspirate memiliki kandungan sel punca mesenkimal yang dapat laboratorium sederhana. Jika dibandingkan dengan sel punca mesenkimal dari sumsum tulang belakang, sel punca mesenkimal dari lipoaspirate lebih mudah diisolasi. Sel punca selanjutnya dikembangkan untuk teknik jaringan dengan cara yang lebih spesifik.

Hal di atas sebagai pencerahan kita bahwa setiap penyakit dapat disembuhkan tetapi penanganan tepatlah yang sangat dibutuhkan.

Sumber:

· Wikipedia

· Medical Journal Indonesia

· Asian Campus

· Kompas


Penulis adalah Rahmi Dianty


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar